17 DRAMA MOBDIN PALI
"Ada banyak cara menilai kualitas sebuah pemerintahan. Melalui APBD-nya, melalui programnya, melalui integritas pejabatnya. Tapi kadang, kita cukup melihat bagaimana mereka memperlakukan mobil dinasnya"
Editorial Series PLUSMINUS - Betapa tidak: kendaraan yang dibeli menggunakan uang rakyat ini seharusnya menjadi fasilitas kerja, bukan tokoh utama dalam drama panjang kehilangan identitas. Dari pelat merah yang mendadak malu tampil, stiker dinas yang lenyap seperti rasa tanggung jawab, hingga unit-unit yang entah lari ke mana—semuanya seperti episode sinetron yang lupa tamat.
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan realita yang, kalau bukan menyedihkan, mungkin bisa kita tertawakan:
· 87 unit tidak hadir saat diperiksa,
· 26 unit hilang tanpa jejak,
· 146 unit masa pinjam pakainya kedaluwarsa,
· 363 unit menunggak pajak,
· dan hanya segelintir yang bersedia dipasangi stiker, seolah itu hukuman sosial.
DOWNLOAD - Uji Data dan Verifikasi Berita: KLIK LINK>>>https://peem.click/download
Ironisnya, ini terjadi di daerah yang bangga dengan tagline PALIMAJU
Karenanya, serial ini hadir sebagai upaya merapikan kegilaan itu. Bukan untuk mencari siapa paling bersalah—karena kalau soal itu, daftar pemainnya terlalu panjang—tapi untuk memperlihatkan bahwa masalah pengelolaan mobdin bukan sekadar urusan mobil. Ini urusan mentalitas.
17 bagian serial ini adalah cermin.
Dan seperti kebanyakan cermin, ia menunjukkan apa adanya: baik, buruk, hingga
yang sama sekali tidak layak dipertahankan.
Selamat datang di rangkaian investigasi ringan
tapi bermakna, satir tapi faktual, dan mungkin… agak nyelekit yang kami sajikan
setiap hari pukul 09.00 WIB.
Karena kadang, untuk maju, kita memang perlu
berhenti sejenak, menatap kerusakan, dan bertanya:
kenapa mobil dinas bisa hilang, tapi
komitmen transparansi tidak pernah ditemukan?
**BAGIAN 1 —
KETIKA
MOBDIN KEHILANGAN IDENTITAS, PUBLIK KEHILANGAN KEPERCAYAAN
Transparansi
bukan teori. Ia adalah tindakan yang terlihat. Dan dalam tata kelola
pemerintahan, identitas sebuah mobil dinas—pelat merah, stiker resmi,
kode instansi—adalah bentuk paling sederhana dari keterbukaan itu.
Karena itu,
ketika identitas sengaja disembunyikan, publik wajar merasa ada sesuatu yang
tidak beres.
Di PALI,
fenomena mobil dinas tanpa pelat merah dan tanpa label bukanlah kejadian
insidental. Ia telah menjadi “tradisi baru” yang normal secara praktik, tapi
ganjil secara etika. Mobil dinas berkeliaran dengan wajah samaran, seolah-olah
identitas itu sesuatu yang memalukan, bukan kewajiban publik.
Padahal
pelat merah dan stiker bukan sekadar ornamen.
Ia adalah penanda pertanggungjawaban.
- Agar masyarakat tahu kendaraan
itu dibeli dengan uang siapa.
- Agar pengguna sadar bahwa ia
sedang membawa amanah publik, bukan milik pribadi.
- Agar setiap pergerakan
kendaraan itu dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan administratif.
Ketika
identitas ini dihapuskan, konsekuensinya jauh lebih besar daripada sekadar
pelanggaran aturan. Yang hilang bukan hanya pelat dan stiker — yang hilang
adalah kepercayaan.
Karena ruang
gelap selalu mengundang kecurigaan.
Dan kecurigaan, jika dibiarkan, berubah menjadi ketidakpercayaan.
Publik tidak
bisa melihat apakah kendaraan digunakan untuk kepentingan dinas atau
kepentingan lain yang “tidak dijadwalkan”. Tidak ada mekanisme sosial untuk
melakukan kontrol. Tidak ada standar moral yang terlihat. Yang tersisa hanya
satu hal: keraguan.
Lebih buruk
lagi, fenomena mobdin tak beridentitas ini terjadi bersamaan dengan temuan BPK
tentang mobdin yang hilang, tak hadir pemeriksaan, menunggak pajak, dan habis
masa pinjam pakai. Kombinasi ini menciptakan gambaran besar tentang sebuah
pola—bukan kebetulan.
Bagian
pertama dari serial ini ingin mengajak kita untuk melihat sesuatu yang tampak
sepele, namun efeknya fundamental.
Karena perjalanan menuju tata kelola yang sehat selalu dimulai dari hal-hal
yang terlihat.
Dan ketika
yang terlihat saja disembunyikan, bagaimana publik bisa percaya pada hal-hal
yang tidak terlihat? Alih-alih membuat PALI MAJU, malah menunjukan PALI MALU.
Komentar
Bukan cuma komentar, saran dan kritik bahkan roastingan pedas sekalipun, silahkan disampaikan!