**BAGIAN 4 —
Sunyi dalam Pengawasan adalah Ruang Tumbuhnya Penyimpangan
EDITORIAL SERIES PLUSMINUS - PALI: Ada masa ketika persoalan aset negara hanya dianggap urusan administratif—sekadar pencatatan, inventarisasi, atau laporan rutin tiap tahun. Tetapi ketika puluhan mobil dinas dinyatakan hilang, ratusan absen dari pemeriksaan, dan identitas kendaraan sengaja dilepas, masalah ini bukan lagi teknis. Ia berubah menjadi ancaman terhadap fondasi tata kelola pemerintahan.
Kesunyian yang mengiringi hilangnya plat merah, hilangnya label dinas, dan hilangnya kepastian keberadaan kendaraan operasional bukanlah kebetulan. Kesunyian seperti ini menciptakan ruang abu-abu yang cukup luas untuk menyembunyikan penyimpangan, menumpulkan pengawasan, dan mengikis kepercayaan publik sedikit demi sedikit.
Di sinilah letak persoalan yang jauh lebih besar: akuntabilitas ikut lenyap.
Sebab bagaimana mungkin pemerintah kabupaten meminta masyarakat percaya pada visi #PALIMAJU, jika aset yang dibeli dari uang rakyat tidak dapat dijelaskan keberadaannya? Bagaimana komitmen dapat diukur jika barang milik daerah dibiarkan berjalan tanpa identitas, tanpa pengawasan, dan tanpa tanggung jawab yang jelas?
#PALIMAJU tidak lahir dari baliho, slogan, atau pidato. Ia lahir dari hal-hal sederhana yang bisa diuji publik:
apakah pemerintah menjaga, mengawasi, dan melaporkan penggunaan asetnya dengan jujur dan terbuka.
Ketika publik terus bertanya “apa yang disembunyikan?”, itu bukan serangan—itu indikator bahwa pemerintah sedang kehilangan sesuatu yang lebih mahal daripada ratusan unit mobil dinas: kepercayaan.
Celah ini tidak bisa diabaikan. Tidak bisa ditutupi. Tidak bisa dibiarkan membesar.
Satu-satunya cara menutupnya adalah transparansi total. Bahkan bila itu tidak nyaman bagi mereka yang selama ini menikmati ruang gelap tersebut.


Tulis Komentar