Drama Anggaran PALI: AP3 Datangi KPK, Anak Muda Belajar dari Contoh yang Mereka Lihat

Skema tata kelola anggaran di PALI sudah masuk kriteria berpola, bukan satu dua kali, tapiberkali-kali

Admin Clicker
Admin Clicker | 18 Des 2025
488 kali dibaca


PLUSMINUS - Jakarta || Hujan tak menghentikan Aliansi Pemuda Peduli PALI (AP3) untuk menggelar aksi damai di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Kamis (18/12/2025). Spanduk-spanduk satir dibentangkan, seolah memberi peringatan halus: “Jangan ajarkan anak muda meniru drama anggaran yang rapi di kertas tapi absurd di logika.”

Sorotan utama aksi ini adalah pengadaan kendaraan dinas di PALI, yang menurut AP3 hanyalah “simbol legalisasi drama anggaran”. Koordinator Aksi, Abu Rizal, menegaskan bahwa anak muda datang bukan karena mobil, tetapi karena pola pengelolaan anggaran yang sama sekali tidak konsisten.

“Mobil dinas itu cuma pajangan. Yang lucu, alasannya selalu sama, tapi perlakuannya bisa berbeda-beda. Seolah logika bisa libur panjang,” kata Abu Rizal sambil menunjuk spanduk bertuliskan “PALI MAJU jadi PALI MALU”.

AP3 menyoroti penggunaan diskresi anggaran yang kian lentur. Menurut mereka, diskresi yang seharusnya menyelesaikan masalah kini justru menjadi alat pembenaran yang stylish.

“Kalau setiap kejanggalan bisa diselesaikan dengan diskresi, berarti akal sehat memang tidak wajib dimiliki publik. Ini level hiburan gratis buat anak muda, tapi sayangnya, teladannya buruk,” ujarnya dengan nada setengah bercanda.

Anak muda PALI tampak menikmati hujan yang turun, sambil memegang spanduk bertuliskan: “Anak Muda Belajar Dari Teladan, Bukan Pembenaran”. Pesan itu jelas: generasi baru tidak ingin meniru contoh yang keliru, walau sistem terus memertontonkan drama.

“Hari ini mobil dinas, besok kegiatan lain. Pola tetap sama. Kalau ini dianggap pembelajaran, maka masa depan generasi kami sedang diuji dengan ujian absurd,” kata Abu Rizal.

Pantauan peem.click, aksi berlangsung tertib. Namun pesan yang disampaikan tajam: pengelolaan anggaran bukan sekadar angka di dokumen, tapi cerminan etika dan teladan publik. Anak muda PALI menegaskan, mereka tidak ingin tumbuh di ruang publik yang mengajarkan bahwa segala hal bisa dibenarkan asal prosedurnya lengkap.


Teks/Foto: ADAM RAMZI
Editor: HENGKY YOHANES

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)