EDITORIAL | peem.click
Pengelolaan anggaran dipertahankan sebagai pola.
Bukan karena ia paling masuk akal, melainkan karena ia paling mudah dipertahankan.
Di hadapan publik, semuanya tampak sah dan tertib.
Dokumen lengkap. Prosedur terpenuhi. Namun di balik kerapian itu, logika dipinggirkan sebagai gangguan.
Penyesuaian menjadi kata kunci.
Ia bekerja seperti penghapus, menghaluskan kejanggalan, mengaburkan prioritas, dan menenangkan pertanyaan sebelum sempat tumbuh.
Pola yang sama diulang.
Alasan yang sama disajikan.
Perlakuan berbeda dibenarkan.
Dan publik diminta memahami bahwa inilah dinamika.
Di titik ini, kebijakan tidak lagi berdiri di atas rasionalitas. Ia bertumpu pada kemampuan bertahan dari kritik. Selama masih bisa disesuaikan, ia dianggap selesai.
Diskresi hadir sebagai pelindung terakhir. Ia tidak menjelaskan, hanya mengakhiri percakapan. Ia tidak membenahi, hanya menutup ruang keberatan.
Anak muda melihat semuanya dengan mata terbuka.
Mereka tidak sedang mencari kesalahan.
Mereka hanya mencatat pola yang dipertahankan dengan mengorbankan penalaran.
Pelajaran yang diterima sederhana dan sunyi:
bahwa yang penting bukan kebenaran, melainkan ketahanan narasi.
Di negeri yang menjadikan penyesuaian sebagai solusi, logika memang tidak dihancurkan. Ia hanya dikorbankan—perlahan, rapi, dan tanpa upacara.
Media mencatat ini bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai penanda zaman.
Bahwa suatu hari nanti, ketika publik bertanya mengapa kepercayaan mengering, jawabannya sudah lama dipertontonkan dalam bentuk penyesuaian yang tak pernah selesai.
Editorial: HENGKY YOHANES


Tulis Komentar