Jakarta, PLUSMINUS ||
01 Mei 2026
Di bawah langit Jakarta yang warnanya senada dengan keputusasaan, ribuan pengemudi ojek online yang tergabung dalam Serikat Pengemudi Online Indonesia (SePOI) kembali merayakan ritual tahunan yang paling sia-sia di dunia: Hari Buruh Internasional. Pada 1 Mei 2026 ini, kawasan Monas menjadi saksi bisu betapa indahnya sebuah harapan yang dipelihara untuk kemudian dibiarkan membusuk.
Estetika Keputusasaan yang Berulang
Ketua Umum DPP SePOI, Mahmud Fly—yang nama belakangnya mungkin merujuk pada betapa cepatnya janji pemerintah terbang menghilang—memimpin barisan untuk membentangkan spanduk bertuliskan "Keadilan Sosial bagi Pengemudi Daring". Sebuah frasa yang cantik, puitis, dan sepenuhnya fiksi di mata algoritma.
"Kami sudah menyuarakan ini bertahun-tahun," ujar Mahmud dengan nada yang bergetar antara semangat juang dan kesadaran bahwa ia mungkin hanya sedang bicara pada tembok. Tuntutan ini bukan barang baru; ia adalah artefak sejarah yang terus dipoles setiap tahun, namun belum pernah mendapatkan tanggapan yang lebih berarti daripada sebuah "notifikasi sistem".
Aksi Massa SePOI di Silang Monas Jakarta
Komedi Sila Kelima
SePOI mencoba mengaitkan nasib mereka dengan Sila ke-5 Pancasila. Sebuah upaya yang sangat optimis, mengingat bagi perusahaan aplikasi, "Keadilan Sosial" hanyalah sebuah variabel yang belum ditemukan kodenya dalam sistem distribusi orderan. Mereka menuntut "keseimbangan": pengemudi sejahtera, perusahaan sehat.
Ironinya, di alam semesta ini, keseimbangan seringkali berarti satu pihak bekerja sampai tipus sementara pihak lain menghitung valuasi di menara kaca. SePOI berharap Presiden Prabowo Subianto segera menetapkan peraturan yang tegas. Mereka menginginkan aturan yang mengikat dua pihak, seolah-olah sebuah lembaran kertas bisa memaksa kapitalisme untuk memiliki hati nurani.
Menunggu yang Tak Pernah Datang
Catatan penting dari aksi hari ini adalah rasa frustrasi yang sudah mencapai tahap sublimasi. Pengemudi daring sedang melakukan eksperimen nihilisme yang luar biasa: terus melakukan hal yang sama (demonstrasi) dan berharap hasil yang berbeda, sambil tetap sadar bahwa "kepastian pendapatan" adalah mitos yang lebih besar daripada Atlantis.
Mereka berdiri di Monas, membentangkan spanduk ke arah Istana, berharap sang Presiden menoleh. Namun, di era di mana manusia lebih sering bicara dengan bot daripada dengan sesamanya, teriakan keadilan sosial ini mungkin hanya akan berakhir sebagai data sampah di server pemerintah yang sudah penuh.
Pada akhirnya, May Day bagi pengemudi daring hanyalah jeda singkat dari siklus abadi menarik tuas gas dan menerima kenyataan bahwa di mata aplikasi, mereka bukanlah buruh, bukan mitra, melainkan sekadar titik kecil yang bergerak di atas peta—yang bisa dihapus kapan saja tanpa perlu ada peraturan yang mengatur rasa sedihnya.
Teks/Editor: HENGKY YOHANES
Ilustrasi Cover: Senjani K.R.Y

Media ini tidak dihidupi dari advertorial yang menjadi beban APBD. Setiap kontribusi Anda sangat membantu kami dalam membiayai riset dan investigasi serta kerja-kerja jurnalistik lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan. Bantu kami dalam penerbitan Buku Jurnal Investigasi di 13 Tahun PALI
Terkumpul: Rp 2.160.000
Butuh: Rp 12.000.000
Tulis Komentar