
EDITORIAL REDAKSI ||
Oleh: Hengky Yohanes
Jujurly, tata kelola uang negara di
daerah kita tuh lagi cringe banget. Status WTP (Wajar Tanpa
Pengecualian) dari BPK yang harusnya jadi bukti Pemda itu clean dan transparent,
malah berubah fungsi jadi medali gengsi yang bisa ditransaksaian di bawah
meja.
Berita tentang dipanggilnya Bupati
PALI sama KPK gara-gara dugaan skandal pengkondisian opini BPK
benar-benar bikin geleng-geleng kepala.
PALI yang udah langganan dapet status WDP
(Wajar Dengan Pengecualian) dari dulu, kayanya udah frustrasi berat.
Bukannya bebenah internal, eh malah diduga nyari jalan pintas: pake jurus
"lo jual gue beli" sama oknum BPK demi stempel WTP.
Padahal, kalau kita spill dan
bedah isi LHP BPK TA 2025, borok anggaran di PALI itu udah overdose
banget dan mustahil ditutup-tutupi:
- Proyek Lampu Jalan yang Problematic: Berkas perencanaannya aja sampai disita sama Kejari.
Ini udah bukan red flag lagi, tapi udah red carpet menuju
tindak pidana!
- Proyek Jalan "Ghoib": Pengerjaan jalan di Simpang Tais nekat jalan tanpa
perikatan/kontrak sah. Like, seriously? Main terabas hukum gitu
aja?
- Uang Retribusi "Numpang Lewat": Hasil retribusi Hotel Srikandi dipake langsung tanpa
masuk kas daerah, plus ada insiden uang di brankas hilang. Real
vibes penggelapan.
- Flexing Perjalanan Dinas: Di saat pusat nyuruh hemat, anggaran dinas di Sekwan
& Setda malah melesat naik puluhan miliar. Out of topic banget
sama kondisi rakyat.
Kelihatan kan benang merahnya?
Sistem pengendaliaan internalnya udah broken parah, penyimpangan di
mana-mana, tapi pengen Kelihatan glowing berstempel WTP. Makanya, survival
mode-nya ya dugaan lobi-lobi "pemutihan dosa".
Ini tuh ngebuktiin dua hal yang toxic
banget:
- Penyakit Fetish WTP:
Pemda cuma ngejar predikat WTP cuma buat pencitraan politik dan nyari Dana
Insentif (DID). Yang penting looks good di medsos, peduli setan
sama infrastruktur yang hancur dan kas yang bocor.
- Pengawas yang Ikut Cuan: Oknum BPK yang harusnya jadi 'polisi anggaran' malah
jualan "jasa sulap laporan". Kalau pengawas sama yang diawasin
udah bestie-an buat manipulasi, ya finish sudah!
Langkah KPK buat ngusut tuntas
skandal ini udah paling bener. Biar jadi shock therapy buat pejabat lain
yang hobi beli reputasi pakai uang rakyat.
Pesan moralnya simpel: Gak usah sok-sokan
ngejar status WTP kalau jeroannya masih penuh korupsi. Soalnya sebalam apapun
bedak WTP yang dibeli, bau bangkainya bakal tetep kecium juga! 
Tulis Komentar