Jakarta, PLUSMINUS ||
10 Mei 2026
Di tengah hiruk-pikuk klakson dan kepulan asap knalpot ibu kota, sebuah kabar berhembus kencang di grup-grup WhatsApp pengemudi ojek online. Kabar itu membawa angin segar: potongan aplikator akan dipangkas menjadi 8%. Bagi banyak pihak, ini dianggap sebagai kemenangan besar. Namun, bagi Mahmud Fly, Ketua Umum Serikat Pengemudi Online Indonesia (SePOI), euforia ini harus dibarengi dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
Berdiri di tengah kerumunan massa dengan seragam merah-hitam khasnya, Mahmud tampak tenang namun sorot matanya tajam. Baginya, angka 8% hanyalah pucuk esberg dari karut-marut tata kelola transportasi daring di Indonesia.
"Jangan cepat syukuran sebelum hitam di atas putih," tegasnya saat ditemui di sela-sela koordinasi lapangan. "Ini langkah maju, tapi menyebutnya sebagai kemenangan final adalah hal yang prematur dan justru bisa membahayakan perjuangan panjang kita."
Perisai Hukum yang Masih Kosong
Mahmud mengingatkan bahwa hingga detik ini, pengumuman penurunan potongan tersebut belum memiliki sandaran hukum yang kokoh. Tanpa Perpres atau revisi resmi terhadap Kepmenhub KP 1001/2022 (yang masih mencantumkan batas 20%), kebijakan 8% hanyalah "kebaikan hati" aplikator yang bisa ditarik kapan saja.
"Driver butuh kepastian hukum, bukan sekadar diskresi yang bisa berubah mengikuti cuaca pasar," lanjutnya.
Labirin Algoritma dan Isu Struktural
Lebih jauh, SePOI menyoroti bahwa fokus berlebih pada angka 8% berisiko mengaburkan masalah yang jauh lebih mendesak: kepastian pendapatan. Mahmud menjelaskan bahwa memotong tarif tanpa membenahi algoritma adalah kesia-siaan.
"Apa gunanya potongan kecil kalau order dialihkan ke skema 'hemat' atau 'slot' yang tidak transparan? Sistem insentif yang mencekik, status kemitraan yang lemah, hingga absennya jaminan sosial dan THR adalah luka lama yang belum sembuh," ungkap Mahmud dengan nada getir.
Menjaga Napas Ekosistem
Sebagai pemimpin serikat, Mahmud juga berpikir realistis. Ia memahami bahwa penurunan pendapatan aplikator secara drastis bisa berdampak domino. Namun, ia menekankan pentingnya keseimbangan. Jika aplikator tidak melakukan efisiensi internal, risikonya adalah pemangkasan fitur keselamatan atau asuransi yang ujung-ujungnya merugikan driver dan konsumen.
"Keseimbangan itu kunci. Kita ingin driver sejahtera, aplikator tetap sehat, dan konsumen tidak lari karena tarif yang tidak masuk akal. Itu hanya bisa dicapai lewat regulasi yang adil, bukan kebijakan sepihak."
Perjuangan Belum Usai
Menutup pembicaraan, Mahmud Fly memberikan pesan kuat kepada ribuan anggotanya di seluruh Indonesia. Klaim "kemenangan" yang terlalu dini hanya akan melonggarkan tekanan publik terhadap pemerintah untuk mengeluarkan regulasi komprehensif.
"Kalau kita berhenti di angka 8% saja tanpa menuntut status kerja yang jelas dan jaminan pendapatan minimum, enam bulan lagi kita akan turun ke jalan dengan masalah yang sama. Perjuangan SePOI adalah untuk jangka panjang, demi martabat pengemudi online di tanah air."
Feature: HENGKY YOHANES
Ilustrasi Cover: SENJANI K.R.Y

Media ini tidak dihidupi dari advertorial yang menjadi beban APBD. Setiap kontribusi Anda sangat membantu kami dalam membiayai riset dan investigasi serta kerja-kerja jurnalistik lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan. Bantu kami dalam penerbitan Buku Jurnal Investigasi di 13 Tahun PALI
Terkumpul: Rp 2.160.000
Butuh: Rp 12.000.000
Tulis Komentar