Boros dan Kemurahan Hati BPK yang Diabaikan

Pengadaan Genset yang bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan target serapan anggaran. Beli spek *Gajah padahal butuhnya spek *Kelinci, fix ini inefisiensi.

Hengky Yohanes | 10 Apr 2026
1.151 pembaca
Ilustrasi - *Gajah Putih yang kesepian

Audio Jurnal Investigasi

by STARLA RADIO
Memuat...
Podcast PLUSMINUS
00:00 00:00


PALI, PLUSMINUS ||
10 April 2026

Di sisi utara kontrakan kantor pemerintahan baru di Kabupaten PALI seharga 300juta, nampak onggokan mesin raksasa putih bersih dalam kurungan yang terlihat gagah namun menyimpan ironi yang getir. Mesin bermerek Cummins NTA855-G1A itu, lengkap dengan alternator Stamford dan panel kontrol SmartGen yang masih berkilap, adalah sebuah monster daya berkapasitas 312,5 kVA. Di atas kertas, ia mampu menyemburkan listrik hingga 250.000 Watt—tenaga yang cukup untuk menerangi satu dusun atau ratusan rumah sederhana. Namun, di sini, di gedung yang ukurannya bahkan tak sebanding dengan sepersepuluh tenaganya, mesin ini hanyalah "Gajah Putih" yang kesepian.

Perjalanan investigasi ini bermula dari sebuah pertanyaan sederhana: Untuk apa gedung kantor sekecil ini membutuhkan daya sebesar itu? Secara teknis, ini adalah sebuah anomali. Bayangkan Anda membeli sebuah mesin jet hanya untuk menggerakkan sebuah sepeda kayuh; itulah yang sedang terjadi di sini. Alibi klasik yang sering dilemparkan ke publik adalah untuk "menjaga keamanan server". Namun, bagi siapapun yang memahami teknologi, argumen itu terdengar seperti bualan yang dipaksakan. Server membutuhkan stabilitas melalui UPS dan sistem pendingin yang presisi, bukan pasokan daya masif yang justru menghamburkan solar dalam jumlah tak masuk akal setiap kali mesin dinyalakan.

ilustrasi: Kontrakan Kantor Kominfo 2 lantai, 3 pintu

Ironi ini semakin tajam ketika kita menengok catatan tagihan listrik bulanan. Alih-alih memberikan efisiensi atau cadangan daya yang efektif, beban tagihan listrik dari PLN justru terpantau merangkak naik secara konstan. Sementara itu, unit genset bernilai ratusan juta rupiah tersebut terpaku diam. Sejak perpindahan ke kantor baru, mesin ini nyaris tidak pernah difungsikan secara nyata. Ia hanya menjadi pajangan mahal yang mengalami depresiasi nilai setiap harinya, sementara uang rakyat yang digunakan untuk membelinya telah menguap menjadi besi tua yang tak terpakai.

Masalahnya, keganjilan ini bukan tanpa pengawasan. Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melalui "kemurahan hatinya" sebenarnya telah mencium aroma tak sedap dalam belanja modal alat-alat besar ini. Auditor negara telah memberikan peta jalan, memberikan waktu 60 hari bagi pemangku kebijakan untuk membenahi administrasi maupun mengembalikan kelebihan bayar jika ditemukan disparitas harga yang mencolok dengan pasar. Namun, di koridor-koridor kekuasaan PALI, peringatan itu seolah hanya dianggap sebagai angin lalu. Rekomendasi audit diabaikan, dan prosedur yang cacat seolah diputihkan begitu saja tanpa ada sanksi yang memberikan efek jera.

Inilah yang kita sebut sebagai "Audit Jurnalistik". Kita tidak hanya melihat angka di atas kertas kontrak yang melambung jauh di atas harga distributor resmi, tapi kita melihat sebuah pola "Recurring Projects"—proyek berulang yang terus dipaksakan demi penyerapan anggaran, tanpa mempedulikan azas manfaat. Rakyat PALI harus membayar harga yang mahal untuk sebuah perencanaan yang gagal, atau mungkin, sebuah perencanaan yang memang sengaja dibuat "salah" demi keuntungan segelintir pihak.

Pada akhirnya, genset 312,5 kVA itu adalah saksi bisu tentang bagaimana anggaran daerah dikelola dengan logika yang terbalik. Selama "kemurahan hati" auditor terus direspon dengan ketegaran untuk mengabaikan, maka selama itu pula pembangunan di Bumi Serapat Serasan hanya akan menghasilkan monumen-monumen pemborosan yang dibalut dalam spesifikasi teknis yang mewah.

Mesin itu mungkin kuat untuk menerangi satu desa, tapi sayangnya, ia gagal menerangi transparansi di dalam kantornya sendiri.

Investigasi ini akan dikupas bahas dan komprehensif dalam penerbitan Buku Jurnal Investigasi - Mantra Sakti "Efisiensi" Bupati PALI pasca HUT 13 Kabupaten ini


Teks/Editor :HENGKY YOHANES
Cover/Visual: SENJANI K.R.Y



 

DUKUNG JURNALISME INVESTIGASI PLUSMINUS

Media ini tidak dihidupi dari advertorial yang menjadi beban APBD. Setiap kontribusi Anda sangat membantu kami dalam membiayai riset dan investigasi serta kerja-kerja jurnalistik lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan. Bantu kami dalam penerbitan Buku Jurnal Investigasi di 13 Tahun PALI

Target Investigasi:
Mantra Sakti "Efisiensi" Bupati PALI
18%

Terkumpul: Rp 2.160.000

Butuh: Rp 12.000.000

Diskusi

Tulis Komentar